Translate

Akhir-akhir ini kita galau dengan perilaku-perilaku oknum-oknum pejabat, ketua partai, tokoh politik, akademisi yang mulai berprofesi sebagai praktisi, penegak hukum, aparatur negara, pengusaha dan masyarakat awam sekalipun. Betapa tidak, seperti hari hari yang lalu (minjam bait-bait lagu Iwan Fals) tabiat manusiapun tak banyak yang berubah, walau kemajuan ilmu pengetahuan semakin berkembang dari zaman batu ke zaman millennium, dari zaman jahiliyah ke zaman yang beradab, maka yang tampak berobah itu hanyalah keadaan saja seperti bangunan kuno jadi bangunan modern atau gaya, penampilan jadul jadi keren, dari mobil uap sampai ke mobil surya. Fenomena yang berkembang dari hari kehari adalah perilaku manusia sepertinya kembali lagi ke zaman purba, zaman dunia yang belum bermatabat dimana perilaku saat itu yang terjadi adalah budaya purba seperti orang makan orang, siapa yang kuat maka dia jadi raja, berbuat suka-suka hukum adalah apa yang dinyatakan orang-orang yang kuat tersebut, maka hukum rimba menjadi tradisi yang menakutkan. Beruntunglah lahir beberapa Nabi yang diutus oleh Allah Yang Maha Kuasa dan yang terakhir Nabi Muhammad SAW yang mampu membalikkan zaman jahiliyah kezaman beradab dan sukses menerapkan manajemen kepemimpinan yang modern serta melahirkan hukum dengan adil. Tergelitik melihat ulah, polah dan tingkah laku para tokoh nasional dimedia apapun, membuat kita miris dengan apa yang dilakukan dan diucapkan tokoh-tokoh ini. Kenapa tabiat monyet semakin tumbuh dan berkembang ? gampang saja kita melihatnya umpama monyet tidak pernah merasa bersalah bila masuk kekebun petani, dan jika diusir sang monyet malah menggertak sipemilik kebun, analogi ini masuk ke tabiat sang tokoh yang telah nyata dicap publik korupsi atau terkait dengan keadaan tersebut, sang tokoh ini menggertak para penegak hukum, bukankah ini seperti monyet tadi.
Tingkah monyet ini sangat komplek bila dianalogikan dengan karakter manusia di era reformasi ini dan seakan membenarkan teori Darwin yang menyatakan bahwa manusia berasal dari monyet (kera), umpama tabiat monyet yang sangat menyolok bila kita melemparkan pisang maka monyet yang paling kuat pasti datang merebut walau pisang tersebut sudah sempat dipegang oleh monyet lainnya, ini menggambarkan keserakahan manusia pada hal-hal yang bersifat materi sehingga mereka tidak pernah puas atas apa yang telah didapat dan akan berusaha melakukan pembenaran apapun untuk menumpuk segala sesuatu yang bersifat duniawi. Contoh lain monyet suka mengacak-acak makanannya sampai kotor walau kemudian diambil untuk dilahapnya, analogi ini seakan mengambarkan aparat hukum yang sangat getol mencari celah atau kesalahan-kesalahan instansi perpajakan yang belum tentu kebenarannya sehingga instansi ini secara tidak langsung akan dibenci oleh masyarakat, bukankah gaji para yudikatif, legislatif, dan eksekutif yang dinikmati oleh anak istri mereka berasal dari uang pajak (uang rakyat), bayangkan jika rakyat tak membayar pajak maka istri dan anak-anak mereka istirahat untuk makan dan memenuhi kebutuhan lainnya. Pastinya setiap orang dari kalangan manapun tidak akan suka dengan tindakan jahiliyah seperti korupsi dan lainnya yang menyerupai korupsi, akan tetapi orang akan lebih membenci tindakan pemimpin dan pengadil yang tidak berusaha untuk bertindak adil dalam perkara hukum yang diputuskan oleh mereka ditengah-tengah masyarakatnya. Source: Wiwid Suhaimi


Leave a Reply

Aryo Penanksanq. Diberdayakan oleh Blogger.
CONTENT BLOGGER HERE
Pakupitu
CONTENT FACEBOOK HERE

Angels The Dark

k